ENERGI.co.id, Dubai – Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Terapung berkapasitas 200 megawatt (MW) hasil kerja sama Indonesia dan perusahaan teknologi nuklir Rusia, Rosatom, menjadi perhatian dalam ajang World Trade Expo (WETEX) 2026 di Dubai, Uni Emirat Arab.
Proyek tersebut diperkenalkan sebagai salah satu model pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan rendah karbon dengan skema investasi business-to-business (B2B). Pengembangannya diarahkan untuk mendukung kebutuhan pasokan listrik sektor industri dan kawasan pesisir di wilayah Indonesia Timur.
Direktur PT Pembangkit Listrik Nuklir, Prof. Yudi Utomo Imardjoko, memaparkan rencana proyek tersebut dalam panel diskusi bertajuk Powering Tomorrow’s Infrastructure: Energy for Industry, Cities and Digital Growth yang berlangsung di Dubai World Trade Centre pada 20–22 Oktober 2026.
Dalam forum internasional tersebut, Yudi menyampaikan bahwa PT Pembangkit Listrik Nuklir telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) dengan Rosatom pada 16 Oktober 2026 di Moskow, Rusia.
Perjanjian tersebut berkaitan dengan rencana penyediaan listrik sebesar 200 MW dari Floating Power Unit (FPU) atau pembangkit listrik tenaga nuklir terapung untuk wilayah Halmahera Utara, Maluku Utara.
Menurut Yudi, proyek ini mengusung skema pembiayaan B2B yang ditujukan untuk menghadirkan investasi swasta dalam pengembangan infrastruktur energi tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Dunia membutuhkan pasokan listrik yang andal dan rendah karbon untuk mendukung infrastruktur masa depan, termasuk industri, perkotaan, dan pertumbuhan digital. Apa yang kami tandatangani bersama Rosatom bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga berpotensi menjadi model baru bagi pengembangan energi global,” ujar Yudi.
Paparan mengenai proyek PLTN terapung Indonesia tersebut menarik perhatian delegasi dari sejumlah negara, antara lain Thailand, Togo, Rwanda, dan Uni Emirat Arab (UAE).
Sejumlah delegasi menyampaikan ketertarikan untuk mempelajari struktur kerja sama, model investasi, serta mekanisme pengembangan proyek ketenagalistrikan berbasis teknologi nuklir terapung tersebut.
Bahkan, perwakilan Togo secara resmi mengundang delegasi Indonesia untuk menjadi pembicara dalam konferensi energi di negara tersebut. Forum itu diharapkan menjadi sarana berbagi pengalaman mengenai model investasi dan pengembangan pembangkit listrik terapung kepada negara-negara pesisir di kawasan Afrika.
Kehadiran Indonesia dalam WETEX 2026 sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pendekatan baru dalam pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan energi industri di wilayah yang memiliki keterbatasan jaringan transmisi dan distribusi.
PT Pembangkit Listrik Nuklir menyebut teknologi yang dipersiapkan untuk proyek tersebut menggunakan Floating Power Unit FPU-100 dengan reaktor RITM-200M.
Teknologi pembangkit terapung ini dirancang untuk menyediakan pasokan listrik bagi kawasan yang membutuhkan sumber energi berkapasitas besar dan stabil. Namun, realisasi proyek tetap memerlukan pemenuhan tahapan teknis, perizinan, keselamatan nuklir, serta kesiapan infrastruktur pendukung.
WETEX 2026 Perkuat Kolaborasi Energi Global
WETEX 2026 merupakan salah satu pameran internasional yang mempertemukan pelaku industri energi, ketenagalistrikan, air, teknologi hijau, transformasi digital, kecerdasan buatan (AI), dekarbonisasi, dan pembangunan kota berkelanjutan.
Pameran tahun ini diikuti sekitar 3.000 perusahaan dari 60 negara, dengan dukungan 13 paviliun internasional, 60 sponsor, 23 mitra, serta penyelenggaraan 119 seminar spesialis.
Managing Director & CEO Dubai Electricity and Water Authority (DEWA) sekaligus Founder and Chairman WETEX, Saeed Mohammed Al Tayer, menyampaikan bahwa penyelenggaraan WETEX mencerminkan visi UAE dalam mendorong pemanfaatan inovasi dan teknologi global untuk memperkuat ketahanan sektor energi dan air.
Pengembangan teknologi digital, AI, infrastruktur pintar, dan solusi rendah karbon menjadi bagian dari agenda transformasi sektor energi untuk menjawab kebutuhan masa depan.
Bagi Indonesia, pengenalan proyek PLTN terapung 200 MW di forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kerja sama internasional dalam pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan.
Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik untuk industri, kawasan ekonomi, dan pusat pertumbuhan baru, diversifikasi sumber energi menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keandalan pasokan listrik nasional.
Meski demikian, pengembangan pembangkit nuklir terapung membutuhkan kajian komprehensif, terutama terkait keselamatan reaktor, regulasi, penerimaan masyarakat, kesiapan jaringan listrik, serta kepastian komersial proyek sebelum dapat direalisasikan.
Jika seluruh tahapan tersebut terpenuhi, proyek ini berpotensi menjadi salah satu alternatif pengembangan pembangkit rendah karbon untuk mendukung kebutuhan kelistrikan di wilayah Indonesia Timur.












