ENERGI.co.id, Bojonegoro – Persoalan sampah yang kerap jadi tantangan di kawasan padat penduduk, justru disulap menjadi penggerak ekonomi di Desa Sendang Harjo, Bojonegoro.
Melalui Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSM-KH), warga tidak hanya bebas dari beban Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), tetapi juga berhasil memproduksi bahan bakar alternatif bernama bioetasol atau Pertasol.
Keberhasilan kemandirian energi dan finansial ini tidak lepas dari pendampingan PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12.
Head of Communications Relations & CID PEPC Zona 12, Muliawaty Weanny Hikmat, mengungkapkan perusahaan terus mendorong program pengolahan limbah yang komprehensif bagi masyarakat sekitar wilayah operasi.
“Isu sampah ini tidak pernah habis. Oleh karena itu, Pertamina mendorong program pengolahan sampah dengan mengedukasi warga untuk memilah mana yang bernilai ekonomis dan non-ekonomis. Sampah ekonomis masuk ke bank sampah. Dari sinilah para ibu anggota BSM-KH bisa membebaskan diri dari tagihan PBB, dan program ini terus berkembang,” jelas Weanny.
Pendiri BSM-KH, Imam Muhlas, menegaskan kunci keberhasilan program ini terletak pada pengelolaan terpadu yang dimulai langsung dari rumah tangga.
“BSM-KH hadir sebagai sistem pengolahan sampah terpadu. Apabila sampah sudah dipilah dari hulu, limbah tersebut bisa langsung dimanfaatkan sebagai bahan baku yang bernilai guna. Hasil tabungan dari bank sampah inilah yang kemudian dimanfaatkan warga untuk membayar PBB,” ujar Imam.
Zero Waste: Dari Pakan Ternak hingga Pertasol
Inovasi warga tidak berhenti pada pembayaran pajak. Pengurus BSM-KH, Ujang Surrya Abdilah, menjelaskan sampah yang terkumpul diproses dengan metode zero waste atau tanpa residu terbuang.
Sampah organik yang mudah membusuk diolah menjadi pakan ternak dan pupuk menggunakan metode budidaya maggot.
Sementara sampah anorganik residu yang sudah tidak memiliki nilai jual di pasaran, diolah menjadi bahan bakar cair Pertasol.
“Dari program pengolahan ini, setiap 300 kilogram timbunan sampah campuran dapat disortir menjadi sekitar 50 kilogram sampah anorganik residu. Melalui proses penyulingan, sampah anorganik tersebut mampu menghasilkan 20 hingga 30 liter BBM jenis Pertasol,” terang Ujang.
Pendampingan berkelanjutan dari PEPC terhadap embrio bank sampah di Desa Sendang Harjo ini membuktikan pendekatan ekonomi sirkular mampu memberikan dampak ganda. Masyarakat tidak hanya berhasil menekan volume sampah, tetapi juga menciptakan kemandirian energi tingkat desa sekaligus meringankan beban pengeluaran rutin rumah tangga. (Man)












