ENERGI.co.id, Jakarta — Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) kembali menggelar Simposium IATMI XVIII 2026 pada Selasa, 15 September 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Migas Indonesia di Era Transformasi Energi: Beradaptasi, Berkolaborasi, dan Memimpin”, dengan subtema “Membangun Ketahanan Energi Nasional melalui Teknologi, SDM, dan Kapabilitas Nasional.”
Simposium tersebut menjadi forum strategis bagi para profesional, praktisi, akademisi, pemerintah, pelaku industri, serta pemangku kepentingan sektor minyak dan gas bumi untuk membahas tantangan dan peluang industri migas Indonesia di tengah perubahan lanskap energi global.
Andre Wijanarko, Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) mengatakan penguatan ekosistem hulu migas menjadi bagian penting dalam menjawab kebutuhan energi nasional. Menurut dia, upaya menutup kesenjangan produksi membutuhkan kepastian kebijakan, daya saing investasi, serta kemampuan eksekusi yang kuat.
“Jika kita ingin menutup gap atau kekurangan target produksi, maka kita membutuhkan ekosistem yang mampu memberikan tiga hal yaitu dalam hal kepastian, daya saing, dan juga eksekusi,” ujar Andre, pada Selasa (15/9).
Transformasi energi mendorong industri migas untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan energi, tuntutan efisiensi, serta agenda pengurangan emisi. Dalam kondisi tersebut, penguatan kapasitas nasional dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlanjutan industri sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Melalui tema yang diusung, IATMI menekankan pentingnya adaptasi, kolaborasi, dan kepemimpinan seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi dinamika sektor energi. Kolaborasi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, asosiasi profesi, serta lembaga riset diperlukan untuk mempercepat penerapan inovasi dan meningkatkan daya saing industri nasional.
Menurut Andre karena fondasi energi negeri itu berada di hulu, yang harus terus diperkuat yaitu dengan cara menjaga dan meningkatkan produksi migas dalam negeri.
“Oleh karena itu peningkatan eksplorasi, percepatan pengembangan lapangan, penciptaan iklim investasi yang kompetitif, penguatan teknologi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia harus berjalan dalam satu ekosistem,” ungkap Andre.
Sementara itu, subtema mengenai teknologi, sumber daya manusia (SDM), dan kapabilitas nasional menempatkan penguasaan teknologi dan peningkatan kompetensi tenaga profesional sebagai bagian penting dalam membangun fondasi ketahanan energi.
Teknologi menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas kegiatan hulu migas. Pemanfaatan teknologi digital, artificial intelligence (AI), data analytics, enhanced oil recovery (EOR), serta berbagai inovasi lainnya dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kinerja lapangan migas yang ada sekaligus mendukung pengembangan sumber daya baru.
Di sisi lain, penguatan SDM nasional juga menjadi kebutuhan strategis. Perubahan teknologi dan model bisnis energi membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi teknis, kemampuan beradaptasi, serta pemahaman terhadap perkembangan industri energi secara lebih luas.
Simposium IATMI XVIII 2026 juga menjadi ruang untuk memperkuat pembahasan mengenai kapabilitas nasional, termasuk kemampuan industri dalam menghasilkan teknologi, jasa, keahlian, dan solusi yang dapat mendukung kegiatan migas di dalam negeri.
Ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sumber energi, tetapi juga dengan kemampuan nasional dalam mengelola sumber daya, mengembangkan teknologi, menyiapkan SDM, serta membangun ekosistem industri yang mampu menghadapi perubahan.
Dengan semangat beradaptasi, berkolaborasi, dan memimpin, Simposium IATMI XVIII 2026 diharapkan dapat menghasilkan pertukaran gagasan dan perspektif yang relevan bagi penguatan industri migas Indonesia di tengah era transformasi energi.
Forum ini sekaligus menegaskan pentingnya peran para ahli dan profesional migas dalam menjaga keberlanjutan industri, mendorong inovasi, serta berkontribusi terhadap pencapaian ketahanan energi nasional.












