ENERGI.co.id, Jakarta – Forum Eksekutif Keuangan (FOREK) Hulu Migas 2026 kembali digelar setelah delapan tahun vakum. Forum yang dijadwalkan berlangsung pada 28–29 Oktober 2026 ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan sekaligus merumuskan solusi atas tantangan investasi dan peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional.
Di tengah kebutuhan menjaga ketahanan energi nasional, industri hulu migas menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari karakteristik lapangan yang semakin mature, kebutuhan pendanaan yang besar, hingga tuntutan peningkatan produksi dan lifting minyak. Kondisi tersebut membutuhkan pendekatan yang lebih terintegrasi, terutama dalam aspek pembiayaan, kebijakan fiskal, dan percepatan pengembangan lapangan.
Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas, Desti Melanti, mengatakan Forex merupakan forum strategis yang telah dilaksanakan sejak 2018. Setelah sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, kegiatan tersebut kembali digelar pada 2026 untuk mendorong peningkatan produksi atau lifting minyak nasional.
“Untuk mendorong keseimbangan industri serta fokus mewujudkan target lifting minyak, dibutuhkan sinergi dan masukan stakeholder,” ujar Desti.
Desti menegaskan, optimalisasi potensi sumber daya migas menjadi produksi nyata tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Diperlukan stimulus fiskal yang kompetitif, peningkatan daya tarik investasi, serta respons cepat terhadap kebutuhan operasional industri.
Skema pembiayaan yang tepat juga menjadi faktor penting untuk memastikan program pengembangan lapangan, pengeboran, dan kegiatan operasi dapat berjalan sesuai rencana. Dengan dukungan pembiayaan yang memadai, peluang peningkatan produksi diharapkan dapat direalisasikan secara lebih optimal.
Dalam konteks tersebut, koordinasi antara pemerintah, SKK Migas, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), satuan tugas, serta kementerian dan lembaga terkait menjadi krusial. Sinergi lintas institusi diperlukan untuk menyelaraskan kebijakan, memperkuat kepastian pelaksanaan program, dan mengatasi berbagai hambatan yang berpotensi memengaruhi realisasi investasi maupun produksi.
Penyelenggaraan kembali FOREK Hulu Migas 2026 turut mendapat dukungan PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi dan kolaborasi di antara para pemangku kepentingan industri hulu migas.
Desti menyampaikan apresiasi kepada Direktur Keuangan PHE, Bayu Kusuma Dewanto, atas respons positif dan cepat terhadap inisiatif penyelenggaraan kembali forum tersebut.
Dukungan dari para pelaku industri dinilai penting untuk membangun ruang dialog yang konstruktif, khususnya dalam mencari jalan keluar atas persoalan pendanaan, investasi, serta tantangan operasional yang dihadapi sektor hulu migas.
Melalui forum ini, berbagai pihak diharapkan dapat mempertemukan perspektif dan kepentingan masing-masing, kemudian menerjemahkannya menjadi langkah konkret yang berdampak terhadap peningkatan kinerja industri.
Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Bayu Kusuma Dewanto, menyoroti kesenjangan antara kebutuhan dan produksi minyak nasional. Ia menyebut kebutuhan minyak dalam negeri telah mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi nasional masih berada di kisaran 600 ribu barel per hari.
Sementara itu, Chairperson FOREK Hulu Migas 2026, Nyimas Fauziah Rikani, diharapkan memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai profil forum, agenda pembahasan, serta rangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan pada 28–29 Oktober mendatang.
Chairperson Forex Hulu Migas 2026, Nyimas Fauziah Rikani, mengatakan antusiasme pemangku kepentingan terhadap penyelenggaraan forum tahun ini cukup tinggi. Panitia memperkirakan sekitar 1.100 peserta akan hadir, melampaui target awal sebanyak 750 peserta.
“Kami menghadirkan sekitar 50 narasumber kompeten, yang dibagi dalam enam sesi diskusi,” kata Rika.
FOREK Hulu Migas 2026 diarahkan untuk menghasilkan tiga capaian utama. Pertama, memperkuat sinergi pemerintah, SKK Migas, KKKS, dan pelaku usaha pendukung agar koordinasi dalam menghadapi tantangan industri berjalan lebih efektif.
Kedua, mendorong realisasi kebutuhan dan harapan pemangku kepentingan melalui langkah konkret yang mendukung peningkatan produksi dan investasi. Fokusnya tidak hanya pada identifikasi persoalan, tetapi juga pada upaya merumuskan solusi yang dapat ditindaklanjuti.
Ketiga, mendorong transformasi tata kelola industri hulu migas secara berkelanjutan agar semakin efektif, adaptif, transparan, dan akuntabel. Perbaikan tata kelola menjadi salah satu elemen penting untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif sekaligus menjaga pelaksanaan kegiatan usaha sesuai ketentuan.
Kembalinya FOREK Hulu Migas setelah delapan tahun memberikan ruang bagi pemerintah, regulator, kontraktor, dan pelaku usaha untuk menyelaraskan agenda serta membangun kesepahaman dalam menghadapi tantangan industri ke depan.
Namun, efektivitas forum ini pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan menghasilkan rekomendasi yang operasional, memperjelas tindak lanjut, dan mendorong penyelesaian persoalan yang selama ini memengaruhi investasi serta realisasi produksi.
Di tengah kebutuhan meningkatkan lifting minyak nasional, industri hulu migas dituntut bergerak lebih cepat dalam mengembangkan lapangan, merealisasikan investasi, dan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia.
Tantangan Indonesia bukan semata-mata menemukan cadangan atau potensi energi baru, melainkan memastikan potensi tersebut dapat dikonversi menjadi produksi komersial secara ekonomis, berkelanjutan, dan memberikan manfaat maksimal bagi negara. (man)












