ENERGI.co.id, Jakarta – Di tengah ketatnya persaingan investasi energi global dan derasnya arus transisi energi, Indonesia kembali mendapat validasi penting, sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional masih menjadi magnet bagi investor internasional.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menegaskan bahwa langkah ekspansi yang dilakukan Jadestone Energy menjadi sinyal kuat atas daya saing Indonesia di mata dunia. “Indonesia ini masih good untuk berinvestasi di hulu migas,” ujar Djoko, Kamis, (23/4).
Pernyataan tersebut disampaikan usai pertemuan resmi antara SKK Migas dan jajaran manajemen Jadestone Energy di Jakarta. Dalam kesempatan itu, CEO Jadestone Energy, T. Mitch Little, bersama timnya memaparkan rencana ekspansi yang lebih agresif di Indonesia.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Country Manager Jadestone Energy Indonesia Andi Iwan Uzamah, General Counsel & Company Secretary Neil Prendergast, serta Commercial & Regulatory Affairs Manager Ika Mustika Sari.
Country Manager Jadestone Energy Indinesia, Andi Iwan Uzamah mengungkapkan bahwa Jadestone saat ini aktif membidik peluang akuisisi dan kemitraan, khususnya pada aset-aset yang sudah berada pada tahap pengembangan maupun produksi.
“Fokus kami adalah aset yang sudah di tahap development atau produksi agar dapat segera dioptimalkan. Kami juga membuka peluang kerja sama strategis, baik melalui kemitraan maupun akuisisi, termasuk untuk aset-aset yang belum tergarap optimal (stranded assets),” jelas Andi.
Bagi Industri Hulu Migas, komitmen Jadestone bukan sekadar ekspansi korporasi, melainkan indikator konkret bahwa iklim investasi hulu migas Indonesia tetap kompetitif dan menjanjikan.
Kontribusi Jadestone yang mencakup produksi gas, kondensat, hingga LPG juga memperkuat peran strategisnya dalam mendukung ketahanan energi nasional.Dengan pendekatan ekspansi yang terbuka mulai dari wilayah barat hingga timur Indonesia, serta mencakup aset onshore dan offshore Jadestone menunjukkan komitmen jangka panjang untuk tumbuh bersama industri migas nasional.
Jadestone saat ini menggarap wilayah kerja lemang di Jambi, dengan rata-rata produksi 6.400 BOEPD. (*)












