Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Geologi: Aktivitas Magmatik Masih Tinggi

banner 468x60

ENERGI.co.id, Jakarta –  Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada Minggu, 6 September 2026. Aktivitas vulkanik tersebut menjadi perhatian karena secara geologis Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang berada di kawasan tektonik sangat dinamis.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Minggu dini hari. Salah satu erupsi terjadi pada pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik dan amplitudo maksimum 46 milimeter. Aktivitas erupsi kembali tercatat pada pagi hari.

Secara geologi, aktivitas tersebut berkaitan dengan proses magmatik di bawah tubuh gunung api. Anak Krakatau merupakan bagian dari sistem vulkanik di kawasan Selat Sunda yang terbentuk akibat proses subduksi lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Proses tersebut menghasilkan kondisi yang memungkinkan magma bergerak naik menuju permukaan dan memicu aktivitas vulkanik.

Badan Geologi sebelumnya menjelaskan bahwa sejak 2 Juli 2026 aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas erupsi yang berlangsung menunjukkan karakter erupsi Strombolian, yang dapat menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.

Dari perspektif geologi, fenomena erupsi menerus yang terjadi pada 5 September 2026 juga memperlihatkan semburan berwarna merah menyala yang menyerupai lava fountain atau air mancur lava. Fenomena tersebut merupakan indikasi keluarnya material magma ke permukaan dan dapat menghasilkan aliran lava serta lontaran material vulkanik.

Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah geologi yang unik. Gunung ini merupakan gunung api muda yang tumbuh setelah letusan dahsyat Krakatau pada 1883. Setelah terbentuk, Anak Krakatau terus mengalami proses pembangunan tubuh gunung melalui akumulasi material hasil erupsi.

Menurut Badan Geologi, setelah peristiwa 22 Desember 2018, aktivitas erupsi berskala rendah masih berlangsung sebagai bagian dari fase konstruksi dan pertumbuhan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau hingga Desember 2023. Aktivitas tersebut kembali meningkat pada 2026.

Kondisi ini menjadi perhatian para ahli geologi karena perubahan morfologi, aktivitas kegempaan, emisi gas, serta munculnya material lava merupakan sejumlah parameter penting untuk memahami dinamika magma di bawah gunung api.

Namun, Badan Geologi menyatakan bahwa tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Berdasarkan evaluasi hingga saat ini, tubuh gunung tersebut tidak dinilai berpotensi runtuh dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meski demikian, perubahan aktivitas dan morfologi tetap dipantau secara intensif.

Erupsi terbaru juga menyebabkan penyebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah. Badan Geologi dan BMKG memantau sebaran abu yang mencapai wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu. Ketinggian sebaran abu pada beberapa wilayah dilaporkan mencapai puluhan ribu kaki.

Dampak abu vulkanik juga berpengaruh terhadap aktivitas penerbangan. Sejumlah bandara mengalami gangguan operasional akibat sebaran abu vulkanik di ruang udara. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak erupsi gunung api tidak hanya bersifat lokal, tetapi dapat meluas mengikuti arah dan ketinggian angin.

Badan Geologi mengimbau masyarakat, wisatawan dan pendaki untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lontaran batu pijar, lava, awan panas dan hujan abu lebat.

Bagi masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung, Badan Geologi mengimbau agar tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah serta lembaga terkait.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa kawasan Selat Sunda merupakan salah satu wilayah dengan dinamika geologi tinggi. Pemantauan terhadap kegempaan, deformasi tubuh gunung, emisi gas, aktivitas kawah dan perubahan morfologi menjadi penting untuk memahami perkembangan sistem magmatik serta mengurangi risiko bencana bagi masyarakat. (***)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *