ENERGI.co.id, Yogyakarta – SKK Migas menegaskan komitmennya dalam mendorong inovasi dan transformasi digital sebagai bagian penting untuk memperkuat efisiensi, keandalan operasi, serta ketahanan energi nasional di tengah dinamika dan tantangan industri hulu minyak dan gas bumi (migas).
Pesan tersebut disampaikan Sekretaris SKK Migas, Luky A. Yusgiantoro, dalam Seminar Nasional Industri Hulu Migas di Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta dengan tema “Inovasi dan Digitalisasi Industri Migas: Kunci Efisiensi dan Ketahanan Energi di Era Disrupsi Global.” Seminar tersebut menjadi bagian dari rangkaian momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus Dies Natalis Universitas Proklamasi 45.
Dalam sambutannya, Luky mengatakan transformasi digital di industri hulu migas tidak boleh hanya dipandang sebagai penerapan teknologi, tetapi harus mampu menjadi bagian dari sistem pengambilan keputusan yang memberikan dampak nyata terhadap kinerja industri.
“Digitalisasi harus diarahkan menjadi bagian dari sistem pengambilan keputusan yang mampu mengubah data menjadi informasi, informasi menjadi keputusan, dan keputusan menjadi tindakan yang memberikan dampak nyata terhadap produksi, efisiensi biaya, keselamatan, keandalan operasi, serta ketahanan energi nasional,” ujar Luky.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital memberikan peluang besar bagi industri hulu migas untuk meningkatkan kualitas pengelolaan data dan informasi. Dengan dukungan sistem digital yang terintegrasi, proses pemantauan kegiatan operasi dapat dilakukan secara lebih cepat, akurat, dan responsif.
Salah satu implementasi transformasi digital yang telah dikembangkan SKK Migas adalah Integrated Operation Center (IOC). Perjalanan pengembangan IOC dimulai sejak 2019 melalui pengembangan dashboard produksi, stok dan lifting nasional, monitoring kegiatan pemboran melalui Real-Time Operation (RTO), serta integrasi data sejumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) secara online.
“Sebagai bukti komitmen digitalisasi, SKK Migas sendiri telah mengoperasikan Integrated Operation Center (IOC) yang memantau operasional hulu migas secara real-time,” kata Luky, Jumat (21/8).
Dalam perkembangannya, IOC terus diperkuat dengan mengintegrasikan berbagai fungsi pemantauan dan analisis operasional. Di antaranya melalui Well Performance Monitoring, LPO Dashboard, Pipe Leak Detection System, custody meter online, air surveillance, serta early warning system.
Integrasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan SKK Migas dan KKKS dalam melakukan pemantauan terhadap kegiatan operasi, mengidentifikasi potensi permasalahan secara lebih dini, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat.
Luky menambahkan, transformasi digital juga membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi menjadi salah satu faktor penting dalam menyiapkan talenta yang dibutuhkan industri hulu migas di masa depan.
Perkuat Kolaborasi dengan Dunia Kampus
Rektor Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, Dr. Benedictus Renny See, S.H., S.E., M.H., menegaskan komitmen perguruan tinggi untuk terus memperkuat perannya dalam pengembangan industri migas melalui pendidikan, riset, inovasi, serta kolaborasi dengan pemerintah dan dunia industri.
Menurutnya, transformasi digital dan inovasi di sektor hulu migas harus menjadi bagian dari upaya mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Perguruan tinggi, kata dia, memiliki posisi strategis dalam menjembatani kebutuhan industri dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sinergi tersebut diharapkan dapat melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya memahami aspek teknis industri migas, tetapi juga memiliki kemampuan dalam memanfaatkan teknologi digital untuk menjawab berbagai tantangan industri.
“Transformasi digital dan inovasi di sektor hulu migas harus menjadi bagian dari upaya mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu menjawab tantangan ketahanan energi nasional,” ujarnya.
Seminar Nasional Industri Hulu Migas tersebut menjadi ruang bertukar gagasan antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri mengenai arah perkembangan sektor hulu migas di tengah perubahan teknologi dan dinamika energi global.
Selain Luky A. Yusgiantoro, kegiatan tersebut juga menghadirkan sejumlah pembicara dari industri hulu migas, di antaranya Andri Kristianto, Community Investment Manager Prime Natuna EP, serta Widi Santoso, Vice President Commercial, Supply Chain & Government Relations Prima Energy.
Kehadiran para pembicara dari unsur pemerintah, akademisi, dan industri diharapkan semakin memperkuat pemahaman mahasiswa dan sivitas akademika mengenai perkembangan industri hulu migas sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Melalui kegiatan tersebut, SKK Migas berharap dunia kampus dapat semakin memahami pentingnya transformasi digital dalam mendukung keberlanjutan industri hulu migas. Pada saat yang sama, mahasiswa diharapkan dapat melihat sektor hulu migas sebagai salah satu bidang strategis yang membutuhkan talenta muda dengan kompetensi teknologi, inovasi, dan kemampuan adaptasi yang kuat.
Transformasi digital pada akhirnya bukan hanya tentang penggunaan teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut mampu menciptakan operasi hulu migas yang lebih efisien, aman, andal, dan berkelanjutan guna mendukung pencapaian target produksi serta memperkuat ketahanan energi nasional. (***)












