Kondisi Terkini Pasar Nikel di Pasar Domestik dan Global

banner 468x60

ENERGI.co.id, Jakarta – Kondisi terkini industri nikel di pasar global, kata Sekretaris Umum (Sekum) APNI Meidy Katrin masih berada dalam fase tekanan oversupply jangka pendek, terutama di pasar China.

“Hal ini terlihat dari penurunan harga di level upstream seperti bijih nikel, NPI, dan nickel sulphate, sementara demand belum sepenuhnya pulih, khususnya dari sektor baterai,” kata Meidy dalam keterangan tertulisnya yang diterima Energindo.co.id pada Rabu (15/4/2026). Namun di sisi lain, pihaknya melihat adanya perubahan struktural besar dari Indonesia, melalui kebijakan RKAB dan reformasi HPM yang mulai berlaku April ini.

“Ini menjadi sinyal bahwa Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti pasar, tetapi mulai mengatur keseimbangan supply dan pricing secara aktif,” tuturnya.

Read More
banner 300x250

Saat ditanya apa dampak kebijakan HPM baru terhadap industri, Meidy menjawab, “Reformasi HPM ini signifikan karena beberapa hal. Diantaranya karena
harga acuan naik hingga +100% sampai +140%. Sekarang tidak hanya berbasis nikel, tetapi juga memasukkan kobalt, besi, dan krom sebagai bagian dari valuasi”.

Dampaknya, lanjut Meidy, harga Nikel di bursa LME naik beberapa jam setelah rilis HPM baru, dari 17.090 menjadi 17.680.

“Untuk penambang, ini memperkuat dasar harga (price floor). Tapi untuk smelter, terutama HPAL, ini menambah tekanan biaya produksi,” ujar Meidy. Jadi yang terjadi saat ini bukan kenaikan margin, tapi justru margin compression di tengah rantai industry

Lebih jauh Meidy mengungkapkan tentang tantangan terbesar industri nikel saat ini. Menurutnya terdapat tiga tantangan utama:
Pertama, tekanan biaya produksi. Harga sulfur naik signifikan hingga >$900/ton. Hal ini berdampak besar ke HPAL, dengan tambahan biaya sekitar $4,000 per ton nikel.
Kedua, ketidakseimbangan demand. Stainless steel masih kuat tetapi demand baterai masih belum optimal. Sedang ketiga, risiko supply chain.

Indonesia, lanjutnya, masih sangat bergantung pada impor sulfur. Ditambah lagi gangguan geopolitik bisa langsung mempengaruhi produksi nasional.

Apakah kondisi ini akan berdampak ke produksi dan tenaga kerja, Meidy mengatakan, “Dalam jangka pendek, perusahaan pasti akan melakukan penyesuaian strategi, seperti efisiensi operasional, penyesuaian capex, dan optimalisasi produksi. Namun sejauh ini, industri masih fokus pada menjaga keberlanjutan operasi, bukan pengurangan tenaga kerja secara masif. Pasalnya, karena pihaknya melihat ini sebagai fase transisi, bukan krisis permanen.

Meidy juga memaparkan outlook industri nikel ke depan. Menurutnya, dalam jangka pendek, pasar masih akan sideways cenderung melemah karena iventory masih tinggi, demand belum pulih penuh. Namun dalam jangka menengah potensi bullish cukup kuat. Sebab supply mulai dikontrol melalui RKAB, cost produksi global meningkat dan Indonesia semakin memperkuat peran sebagai penentu pasar (market stabilizer). “Saat ini industri nikel global masih dalam tekanan oversupply, namun Indonesia sedang melakukan repositioning strategis melalui reformasi HPM dan pengendalian produksi. Ini bukan hanya menjaga harga, tapi juga memastikan nilai tambah dan keberlanjutan industri ke depan,” ungkap Meidy.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *